Melembagakan Inisiatif sebagai Bagian Permanen dalam Kompleksitas

Anda percaya pada sesuatu yang Anda lakukan, dan Anda berusaha menemukan cara untuk mempertahankannya ketika seseorang —bahkan Anda!— yang berperan penting harus meninggalkan organisasi. Anda ingin memastikan inisiatif yang selama ini Anda perjuangkan dapat berkelanjutan. Untuk melakukan ini, Anda harus melembagakan inisiatif tersebut.

Institusionalisasi atau pelembagaan adalah proses aktif untuk membangun inisiatif Anda, bukan hanya melanjutkan programnya, namun juga mengembangkan hubungan, praktik, dan prosedur menjadi bagian permanen organisasi.

Terlepas dari alasan apapun Anda ingin melakukannya, dengan melembagakan inisiatif Anda akan meningkatkan dampaknya. Dan itu akan menyenangkan Anda, karena anggota kelompok akan memiliki gagasan yang lebih baik tentang apa yang akan mereka lakukan bulan depan dan tahun-tahun jauh di masa depan. Itulah yang kami maksudkan institusionalisasi di dalam blog ini sebagai peta jalan yang akan memandu Anda mengantarkan dampak positif. Di sini kami akan membantu Anda meletakkan fondasi yang Anda butuhkan untuk proses pelembagaan; strategi.

Melembagakan Strategi

Yang paling penting, untuk menekankan sistem, gaya, staf, keterampilan, dan tujuan super-ordinat, kita perlu melihat bagaimana strategi dilembagakan.

Lembaga adalah kumpulan nilai-nilai, norma, peran dan kelompok yang berkembang untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Lembaga pendidikan, misalnya, dikembangkan untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang produktif.

Untuk melembagakan strategi bisnis, pemimpin bisnis juga harus mengembangkan sistem nilai, norma, peran dan kelompok yang akan mendukung tercapainya tujuan strategis. Jadi, strategi dilembagakan jika strategi itu terhubung dengan budaya, sistem mutu, dan kekuatan pendorong lainnya dalam organisasi.

Kita telah melihat bahwa dorongan menuju Total Quality Management (TQM) dapat dilembagakan. Aspek lain dari kehidupan organisasi yang juga mengalami peningkatan kelembagaan adalah penekanan pada pengembangan etika. Keduanya mengalihkan perhatian organisasi dari kontrol terhadap koordinasi dan dampak strategis. Hasil akhir dari pergeseran ini adalah peningkatan kualitas produk dan layanan bagi pelanggan dan peningkatan kualitas lingkungan kerja bagi karyawan.

Peran Chief Executive Officer (CEO)

Di dalam hukum positif Indonesia penggunaan istilah CEO terdapat pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kepmenakertrans 40/2012), merujuk pada standar internasional untuk istilah jabatan eksekutif tertinggi dalam organisasi; (dewan) direksi. Demikian kami menggunakannya di dalam blog ini.

Karena CEO menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk mengembangkan dan memandu strategi, maka tujuan dan nilai pribadi mereka mau tak mau membentuk strategi sebuah organisasi.

Peran mereka dalam perumusan strategi membuat CEO sangat penting dalam implementasinya.
1. CEO menafsirkan strategi, bertindak sebagai hakim akhir ketika para manajer tidak setuju dalam penerapannya.
2. CEO memberlakukan keseriusan komitmen organisasi terhadap strategi melalui kata-kata dan tindakan mereka.
3. CEO memotivasi, memberikan insentif tak berwujud di luar gaji atau bonus.

Dengan menarik nilai-nilai, kepercayaan dan kesetiaan anggotanya, CEO dapat memobilisasi dukungan untuk sebuah strategi.

Pemahaman menyeluruh tentang strategi; apa yang Anda inginkan, apa yang ingin Anda capai dan bagaimana mendapatkannya hampir pasti akan mengarah pada sebuah organisasi yang efektif dan dihormati, singkatnya, yang hampir dijamin keberadaannya untuk waktu yang lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s